Mengenai Saya

Foto saya
ASLI GOMBONG, TINGGAL DI JAKARTA, Indonesia
sederhana, apa adanya

Sabtu, 08 Agustus 2009

sisi punya kisah

TAK SELAMANYA BIANGLALA ADALAH INDAH
PERNAH SUATU SAAT DIA TERKOYAK DURI
BERDARAH
MENGALIR JAUH MENEMBUS NADI
MENINGGALKAN JEJAK TANGIS DAN TAWA
DI SETIAP TETES ASA
DUNIA YANG TERSENTUH
TERTINGGAL PENUH HAMPA
SEJENGKAL GUNDAH
MENGUKIR PADA TIAP KEDIP
TIADA RASA YANG PALING SUNYI
SAAT MENYADARI BAHWA
TAK SELAMANYA BIANGLALA ADALAH INDAH


Kutemukan tulisan itu pada secarik kertas di antara tumpukan buku SMA. Kertas yang sudah agak menguning. Sebetulnya banyak kertas yang tersimpan dalam kardus bekas tempat sepatu ini. Namun entahlah, kok kayaknya hanya kertas ini yang menarik perhatianku. Saat membacanya sekilas, membuat hatiku sedikit bergetar serta mataku agak menghangat.

Tulisan di kertas ini memang tulisan tanganku. Aku masih hapal dengan model huruf 'a' yang bulat menyerupai huruf 'o'. Perlahan aku membaca puisi atau apalah namanya yang tertera di situ. Selirit rasa gamang mengaliri hatiku. Susunan kata-kata ini aku rangkai sebagai ungkapan rasa sedih karena perpisahan yang harus terjadi meskipun aku tak pernah memintanya. Bersamaan dengan lulus SMA, harus berakhir pula kebersamaanku dengan seseorang bernama Rudi. Rudi Sarkoro. Nama yang selama dua tahun terakhir selalu mengisi tiap sudut hati.

Kertas di tanganku tiba-tiba terjatuh ketika bayangan seraut wajah berambut hitam ikal melintas. Aku terkesiap. Ah, Rudi. Betapa dulu kita berdua ingin selalu bersama. Menjalin kasih, merangkai cerita indah masa remaja, menapaki hari-hari berdua tanpa noda cemburu apalagi pertengkaran. Seperti bianglala yang kita lihat ketika hujan baru reda. Bianglala adalah indah, Sisi. Seperti cinta kita. Cinta kita adalah bianglala. Begitu kamu berucap dulu.

Tetapi ucapan itu sungguh terdengar indah sebelum kehadiran Vandya. Sejak kedatangannya di sekolah kita sebagai murid baru, kamu mulai berubah. Hingga suatu hari ketika hujan baru reda aku musti menatap bianglala sendiri tanpa kamu. Percayakah engkau, sejak saat itu aku merasa bahwa bianglala tidak lagi indah? Aku sedih, Rudi. Sebagai ungkapan perasaanku, aku buat tulisan itu. Rudi, tak selamanya bianglala adalah indah. Benarkah?






Jumat, 03 April 2009

bedah film

judul : THE SAINT
katagori : film action dengan bumbu romantisme


Film ini bercerita tentang seorang penyamar sekaligus pencuri (diperankan Val Kilmer) yang bukan merupakan pencuri ece-ece, melainkan pencuri berskala internasional. Mencuri chip, mencuri data penting, mencuri formula di banyak negara lalu dijual kepada pemesan dengan harga tinggi.
Kalau pergi ke negara lain dalam rangka misinya itu, dalam paspornya dia selalu menggunakan nama-nama santo. Dalam agama katolik, santo adalah orang-orang suci such as Thomas Moore, Christhoper August and so on. Selain itu dia juga ahli menyamar dengan berbagai dandanan misalnya pakai kumis, jenggot, etc serta berbicara dalam berbagai bahasa. Suatu saat lewat internet, dia bertransaksi dengan seorang Rusia yang namanya Tretiak. He is a rich man yang mau menyabotase pemerintahan yang sah di Rusia. Waktu itu  lagi musim dingin, jadi harus ada alat yang bisa digunakan sebagai penghangat untuk masyarakat. 
Sementara di Inggris ada seorang ilmuwan yang bernama Doktor Emma Russel (diperankan Elizabeth Shue) yang bisa menciptakan alat itu. Si Tretiak pengen banget mengambil alat tersebut untuk menjatuhkan Presiden Rusia. Dia menyuruh Simon (nama asli tokoh) untuk mengambil formula yang diciptakan oleh mbak Emma Russel ini.
Terbanglah Simon ke Inggris. Dia deketin Emma. Dia rayu sampai akhirnya Doktor Emma falling in love with him. Pas di apartemen Emma , Simon mengambil formula tersebut lalu dibawa ke Tretiak.
Karena nggak rela formulanya jatuh ke tangan orang yang ternyata jahat, Emma menyusul Simon ke Rusia. Dia tau karena berhasil memecahkan identitas Simon yang selalu menggunakan nama-nama santo dalam setiap paspornya. Di Rusia mereka berdua sempat jadi buruan orang-orang suruhan Tretiak. Bahkan untuk menghindari para pengejar, Simon sampai rela menceburkan diri ke sungai yang super dingin. Hingga akhirnya, Simon mengalami hipotermia. Nha...untuk mengembalikan kondisi Simon agar tidak 'bablas' karena kedinginan, Emma mengajak Simon bercinta.
Ketika sedang berduaan itulah, orang-orang bayaran Tretiak mengetahui tempat persembunyian mereka. Simon dan Emma pun melarikan diri melalui saluran air bawah tanah menuju ke Kedutaan Besar Amerika. Di depan kedutaan, Simon meledakkan mobil untuk mengalihkan perhatian musuhnya. Cara itu dia tempuh agar Emma bisa lari ke kedutaan melalui pintu gerbang yang dijaga oleh tentara Amerika. Setelah melalui serangkaian kejadian yang menegangkan, persoalan di Rusia bisa diatasi. Alat ciptaan Emma berhasil didemonstrasikan di depan para pendukung Presiden Rusia. Dengan demikian terhindarlah Sang Presiden dari aksi anarkis usaha penggulingan kekuasaannya oleh Tretiak.
Disadari oleh Simon bahwa selama bersama Emma dia menemukan perasaan lain yang berbeda dari rasa-rasa yang pernah dia rasakan sebelumnya. Dulu dia cuek, mencari-cari pelampiasan atas kegelisahannya selama hidup. Simon trauma dengan kejadian di masa kanak-kanaknya. Rasa bersalah karena dia nggak bisa menyelamatkan Agnes, temannya ketika  di panti asuhan dulu. Agnes terjatuh dari lantai atas hingga meninggal. Dalam diri Emma dia menemukan yang selama ini dia cari, yaitu rasa nyaman. Rasa itu dia peroleh saat bersama Emma, gadis lugu yang semestinya dia jadikan korban pencurian.
Endingnya ya...bisa ditebak. Hampir seperti film-film ala Hollywood lainnya. Tokoh utama cewek dan cowoknya bersatu jadi pasangan. Yang pantas dicatat dari film ini adalah seseorang tuh kalo sudah kepentok cinta pasti akan luluh juga sekalipun orang tersebut merupakan orang yang nggak benar hidupnya. Demi cintanya pada sang wanita he is gonna be a good man and then go back to the right way. Cieee....dalem nih kayaknya.......
Penting nggak penting yang penting : saking sukanya dengan film ini, saya sudah menonton film THE SAINT berkali-kali. Menurut saya two thumbs up for this movie...












Sabtu, 28 Maret 2009

sekolah saya dulu

Saya anak yang lahir di Gombong. Gombong merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kalau kalian mau pergi ke Yogya lewat jalur selatan, naik mobil atau kereta api pasti akan melewati kota ini.
Perjalanan pendidikan saya dimulai dari Taman Kanak-kanak. Nih dia daftar panjangnya:
TK saya tempuh di TK AISIYAH V Gombong, dekat Kawedanan Gombong. Kalau berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Melewati jembatan (basa jawanya bruk). Jembatan yang selalu ramai oleh kendaraan-kendaraan besar, seperti bus, mini bus, truk dan bus-bus antarkota juga provinsi.
Saya selalu berangkat ke sekolah bersama sepupu saya, Yuyun. Dia tinggal di Jakarta sekarang, sering ketemu kalo ada acara keluarga. She has two children.
Guru-guru saya di TK semuanya baik. Nama guru-guru saya adalah Bu Cici (kelak putri beliau yang namanya Ken Dyah Sumiwi yang biasa kupanggil Wiwi jadi teman SD saya), rumah beliau di Wero. Ada Bu Jinah, beliau adalah guru agama. Kalau bercerita tentang Nabi Muhammad selalu bersemangat. Beliau mengajarkan surat-surat pendek, menanamkan kepada murid-muridnya agar selalu ingat kepada Allah swt.

Ada juga Bu .......aduh aku lupa namanya. Nyuwun sewu ibu... bukannya bermaksud melupakan, tetapi memang saya agak tidak ingat. Nanti kalau saya pulang ke Gombong akan saya tanyakan ke Dani, teman se-TK saya. Tapi saya masih ingat wajah lembut ibu. Ibu mengajarkan saya menyanyi, senam, membuat kerajinan tas dari kertas (saya dapat buku tulis pas ikut lomba di Kawedanan. seneng....rasanya).
Lulus TK saya masuk ke SDN 2 Gombong. Sekolah saya ini dekat dengan TK yang dulu. Kalau bahasa jawanya kur kari mlumpat thok wis tekan (tinggal lompat aja sudah sampai). Memang iya, TK dan SD saya ini hanya dibatasi oleh selokan kecil saja.
Guru saya di kelas 1 bernama Bu Yani, lengkapnya Bu Sri Haryani. Orangnya berambut kriting, putih, cantik, dan yang penting sabaaaaaaaaarnya luar biasa. Beliau mengajari saya menulis, membaca, bertutur kata yang sopan, pakai seragam dengan rapi. Dulu ada pelajaran menulis halus. Itu lho yang buku tulisnya bergaris kecil-kecil. Nggak tau ya sekarang masih ada nggak pelajaran menulis halus.
Naik ke kelas 2, saya diajar oleh Pak Wi. Namun beliau tidak lama mengajar karena kemudian beliau pindah ke SD lain. Guru kelas 2 pun diganti oleh Pak Darmosiswoyo. Orangnya lucu, kalau tindak ke sekolah nitih sepeda. Kadang-kadang teman-teman saya yang laki-laki bergantian menuntun sepeda beliau untuk diparkirkan di tempat sepeda.
Trus saya naik ke kelas 3. Nama guru saya di kelas 3 adalah Bu Kasirah. Orangya agak galak (he he...nyuwun sewu ibu, saya tau sekarang ternyata ibu galak dalam hal yang benar dan itu demi kabaikan saya). Di kelas ini sering Bu Kas ...begitu beliau biasa disapa, meminta kami maju dua demi dua untuk menulis dengan huruf jawa. itu lho ho no co ro ko dst.dst.... Kalau yang gak apal hurufnya ya lumayan lama berdiri di depan papan tulis sambil ingat-ingat bentuk hurufnya kayak apa.
Setahun kemudian saya duduk di kelas 4. Nama guru saya di kelas ini adalah Bu Kasih Widayati, kami biasa menyapa beliau dengan nama Bu Wid. Beliau berkaca mata agak tebal, berambut kriting, kalau bicara logat Solonya jelas banget. Di kelas 4 Bu Wid pernah mengajak kami masak-masakan. Waktu itu kami masak sayur asem-asem. Ada tempe, tahu, cabe, pake kecap juga.
Nggak pake nunggak (istilah buat tidak naik kelas), saya lanjut ke kelas 5. Nah...di kelas ini Bu Kun Maryani yang mengajar. Orangnya ngagem kaca tingal (pake kaca mata maksudnya), masih juga dapat guru yang berambut kriting. Rumahnya di sebelah selatan rel sepur alias rel kereta api.
Kelas terakhir yang saya duduki yaitu kelas 6. Pak Nurhadi adalah nama guru di kelas ini. Beliau orangnya bijak, serba tau (karena kalau kami bertanya selalu bisa beliau jawab. hebat ya...), berkaca mata. Di kelas ini pula ada materi pelajaran yang sampai sekarang masih saya ingat. Pak Nur begitu kami menyapa pernah membahas masalah pantun, begini bunyinya
PULAU PANDAN JAUH DI TENGAH
DI BALIK PULAU ANGSA DUA
HANCUR BADAN DI KANDUNG TANAH
BUDI BAIK DIKENANG JUA
Pak Nur...sampai sekarang saya masih ingat lho, Pak. Padahal it`s so long long time ago. Sekarang kalau sedang mengajarkan pantun kepada murid-murid saya, sering terlintas ajaran Bapak tentang materi itu di benak saya.
Oke...sampai di sini cerita masa pendidikan saya saat di Sekolah Dasar. Meski sudah lama berlalu, tetapi masih banyak yang saya ingat. Kalau pulang ke Gombong, saya suka jalan-jalan melewati sekolah-sekolah yang dulu. Betapa saya sangat bersyukur bisa menempuh pendidikan dasar dengan lengkap. Di tempat-tempat itulah saya mulai mengukir sejarah kehidupan agar menjadi sosok yang lebih baik.
Ah...untung saya ingat. Ada satu pesuruh yang selalu dekat dengan semua murid, namanya Pak Karmin. Beliau membantu kami dalam urusan kebersihan. Sosoknya gedhe dhuwur, mandan ireng....hehe.... 
Nha...ini teman-temanku dari kelas 1 sampai kelas 6 (ada yang pergi ada yang datang)...yuniarti teti harjati, siti wardani, erna wati, indah purwantini , andri astuti, andri suryadi,  agus salim santoso, muhammad agus setiawan, rina indriasari, umi widayanti, umi nurhayati, susetiati, novi yanti, ira yulita sari, karlina risani paath, rudi antoko, taufik nasarudin, zakaria, khusnul khotimah, toifah, iswarni, rodiyah, tri andar walyono, apriyanti isneningsih, sri rahayu susanti, agung rezeki, endro widyantoro, welli candra, wahyu kurniawan, dedi andriyanto, heri sunarmo, purnomo, edi purwito, yuni astanti (alm. rest in peace...), hendrawan prasetyo, johan yuni purnomo edi, nur wijayanti, dori fatun, ken dyah sumiwi, dewi yunita, suscahwanto.