PERNAH SUATU SAAT DIA TERKOYAK DURI
BERDARAH
MENGALIR JAUH MENEMBUS NADI
MENINGGALKAN JEJAK TANGIS DAN TAWA
DI SETIAP TETES ASA
DUNIA YANG TERSENTUH
TERTINGGAL PENUH HAMPA
SEJENGKAL GUNDAH
MENGUKIR PADA TIAP KEDIP
TIADA RASA YANG PALING SUNYI
SAAT MENYADARI BAHWA
TAK SELAMANYA BIANGLALA ADALAH INDAH
Kutemukan tulisan itu pada secarik kertas di antara tumpukan buku SMA. Kertas yang sudah agak menguning. Sebetulnya banyak kertas yang tersimpan dalam kardus bekas tempat sepatu ini. Namun entahlah, kok kayaknya hanya kertas ini yang menarik perhatianku. Saat membacanya sekilas, membuat hatiku sedikit bergetar serta mataku agak menghangat.
Tulisan di kertas ini memang tulisan tanganku. Aku masih hapal dengan model huruf 'a' yang bulat menyerupai huruf 'o'. Perlahan aku membaca puisi atau apalah namanya yang tertera di situ. Selirit rasa gamang mengaliri hatiku. Susunan kata-kata ini aku rangkai sebagai ungkapan rasa sedih karena perpisahan yang harus terjadi meskipun aku tak pernah memintanya. Bersamaan dengan lulus SMA, harus berakhir pula kebersamaanku dengan seseorang bernama Rudi. Rudi Sarkoro. Nama yang selama dua tahun terakhir selalu mengisi tiap sudut hati.
Kertas di tanganku tiba-tiba terjatuh ketika bayangan seraut wajah berambut hitam ikal melintas. Aku terkesiap. Ah, Rudi. Betapa dulu kita berdua ingin selalu bersama. Menjalin kasih, merangkai cerita indah masa remaja, menapaki hari-hari berdua tanpa noda cemburu apalagi pertengkaran. Seperti bianglala yang kita lihat ketika hujan baru reda. Bianglala adalah indah, Sisi. Seperti cinta kita. Cinta kita adalah bianglala. Begitu kamu berucap dulu.
Tetapi ucapan itu sungguh terdengar indah sebelum kehadiran Vandya. Sejak kedatangannya di sekolah kita sebagai murid baru, kamu mulai berubah. Hingga suatu hari ketika hujan baru reda aku musti menatap bianglala sendiri tanpa kamu. Percayakah engkau, sejak saat itu aku merasa bahwa bianglala tidak lagi indah? Aku sedih, Rudi. Sebagai ungkapan perasaanku, aku buat tulisan itu. Rudi, tak selamanya bianglala adalah indah. Benarkah?
Tulisan di kertas ini memang tulisan tanganku. Aku masih hapal dengan model huruf 'a' yang bulat menyerupai huruf 'o'. Perlahan aku membaca puisi atau apalah namanya yang tertera di situ. Selirit rasa gamang mengaliri hatiku. Susunan kata-kata ini aku rangkai sebagai ungkapan rasa sedih karena perpisahan yang harus terjadi meskipun aku tak pernah memintanya. Bersamaan dengan lulus SMA, harus berakhir pula kebersamaanku dengan seseorang bernama Rudi. Rudi Sarkoro. Nama yang selama dua tahun terakhir selalu mengisi tiap sudut hati.
Kertas di tanganku tiba-tiba terjatuh ketika bayangan seraut wajah berambut hitam ikal melintas. Aku terkesiap. Ah, Rudi. Betapa dulu kita berdua ingin selalu bersama. Menjalin kasih, merangkai cerita indah masa remaja, menapaki hari-hari berdua tanpa noda cemburu apalagi pertengkaran. Seperti bianglala yang kita lihat ketika hujan baru reda. Bianglala adalah indah, Sisi. Seperti cinta kita. Cinta kita adalah bianglala. Begitu kamu berucap dulu.
Tetapi ucapan itu sungguh terdengar indah sebelum kehadiran Vandya. Sejak kedatangannya di sekolah kita sebagai murid baru, kamu mulai berubah. Hingga suatu hari ketika hujan baru reda aku musti menatap bianglala sendiri tanpa kamu. Percayakah engkau, sejak saat itu aku merasa bahwa bianglala tidak lagi indah? Aku sedih, Rudi. Sebagai ungkapan perasaanku, aku buat tulisan itu. Rudi, tak selamanya bianglala adalah indah. Benarkah?
