Saya anak yang lahir di Gombong. Gombong merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kalau kalian mau pergi ke Yogya lewat jalur selatan, naik mobil atau kereta api pasti akan melewati kota ini.
Perjalanan pendidikan saya dimulai dari Taman Kanak-kanak. Nih dia daftar panjangnya:
TK saya tempuh di TK AISIYAH V Gombong, dekat Kawedanan Gombong. Kalau berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Melewati jembatan (basa jawanya bruk). Jembatan yang selalu ramai oleh kendaraan-kendaraan besar, seperti bus, mini bus, truk dan bus-bus antarkota juga provinsi.
Saya selalu berangkat ke sekolah bersama sepupu saya, Yuyun. Dia tinggal di Jakarta sekarang, sering ketemu kalo ada acara keluarga. She has two children.
Guru-guru saya di TK semuanya baik. Nama guru-guru saya adalah Bu Cici (kelak putri beliau yang namanya Ken Dyah Sumiwi yang biasa kupanggil Wiwi jadi teman SD saya), rumah beliau di Wero. Ada Bu Jinah, beliau adalah guru agama. Kalau bercerita tentang Nabi Muhammad selalu bersemangat. Beliau mengajarkan surat-surat pendek, menanamkan kepada murid-muridnya agar selalu ingat kepada Allah swt.
Ada juga Bu .......aduh aku lupa namanya. Nyuwun sewu ibu... bukannya bermaksud melupakan, tetapi memang saya agak tidak ingat. Nanti kalau saya pulang ke Gombong akan saya tanyakan ke Dani, teman se-TK saya. Tapi saya masih ingat wajah lembut ibu. Ibu mengajarkan saya menyanyi, senam, membuat kerajinan tas dari kertas (saya dapat buku tulis pas ikut lomba di Kawedanan. seneng....rasanya).
Lulus TK saya masuk ke SDN 2 Gombong. Sekolah saya ini dekat dengan TK yang dulu. Kalau bahasa jawanya kur kari mlumpat thok wis tekan (tinggal lompat aja sudah sampai). Memang iya, TK dan SD saya ini hanya dibatasi oleh selokan kecil saja.
Guru saya di kelas 1 bernama Bu Yani, lengkapnya Bu Sri Haryani. Orangnya berambut kriting, putih, cantik, dan yang penting sabaaaaaaaaarnya luar biasa. Beliau mengajari saya menulis, membaca, bertutur kata yang sopan, pakai seragam dengan rapi. Dulu ada pelajaran menulis halus. Itu lho yang buku tulisnya bergaris kecil-kecil. Nggak tau ya sekarang masih ada nggak pelajaran menulis halus.
Naik ke kelas 2, saya diajar oleh Pak Wi. Namun beliau tidak lama mengajar karena kemudian beliau pindah ke SD lain. Guru kelas 2 pun diganti oleh Pak Darmosiswoyo. Orangnya lucu, kalau tindak ke sekolah nitih sepeda. Kadang-kadang teman-teman saya yang laki-laki bergantian menuntun sepeda beliau untuk diparkirkan di tempat sepeda.
Trus saya naik ke kelas 3. Nama guru saya di kelas 3 adalah Bu Kasirah. Orangya agak galak (he he...nyuwun sewu ibu, saya tau sekarang ternyata ibu galak dalam hal yang benar dan itu demi kabaikan saya). Di kelas ini sering Bu Kas ...begitu beliau biasa disapa, meminta kami maju dua demi dua untuk menulis dengan huruf jawa. itu lho ho no co ro ko dst.dst.... Kalau yang gak apal hurufnya ya lumayan lama berdiri di depan papan tulis sambil ingat-ingat bentuk hurufnya kayak apa.
Setahun kemudian saya duduk di kelas 4. Nama guru saya di kelas ini adalah Bu Kasih Widayati, kami biasa menyapa beliau dengan nama Bu Wid. Beliau berkaca mata agak tebal, berambut kriting, kalau bicara logat Solonya jelas banget. Di kelas 4 Bu Wid pernah mengajak kami masak-masakan. Waktu itu kami masak sayur asem-asem. Ada tempe, tahu, cabe, pake kecap juga.
Nggak pake nunggak (istilah buat tidak naik kelas), saya lanjut ke kelas 5. Nah...di kelas ini Bu Kun Maryani yang mengajar. Orangnya ngagem kaca tingal (pake kaca mata maksudnya), masih juga dapat guru yang berambut kriting. Rumahnya di sebelah selatan rel sepur alias rel kereta api.
Kelas terakhir yang saya duduki yaitu kelas 6. Pak Nurhadi adalah nama guru di kelas ini. Beliau orangnya bijak, serba tau (karena kalau kami bertanya selalu bisa beliau jawab. hebat ya...), berkaca mata. Di kelas ini pula ada materi pelajaran yang sampai sekarang masih saya ingat. Pak Nur begitu kami menyapa pernah membahas masalah pantun, begini bunyinya
PULAU PANDAN JAUH DI TENGAH
DI BALIK PULAU ANGSA DUA
HANCUR BADAN DI KANDUNG TANAH
BUDI BAIK DIKENANG JUA
Pak Nur...sampai sekarang saya masih ingat lho, Pak. Padahal it`s so long long time ago. Sekarang kalau sedang mengajarkan pantun kepada murid-murid saya, sering terlintas ajaran Bapak tentang materi itu di benak saya.
Oke...sampai di sini cerita masa pendidikan saya saat di Sekolah Dasar. Meski sudah lama berlalu, tetapi masih banyak yang saya ingat. Kalau pulang ke Gombong, saya suka jalan-jalan melewati sekolah-sekolah yang dulu. Betapa saya sangat bersyukur bisa menempuh pendidikan dasar dengan lengkap. Di tempat-tempat itulah saya mulai mengukir sejarah kehidupan agar menjadi sosok yang lebih baik.
Ah...untung saya ingat. Ada satu pesuruh yang selalu dekat dengan semua murid, namanya Pak Karmin. Beliau membantu kami dalam urusan kebersihan. Sosoknya gedhe dhuwur, mandan ireng....hehe....
Nha...ini teman-temanku dari kelas 1 sampai kelas 6 (ada yang pergi ada yang datang)...yuniarti teti harjati, siti wardani, erna wati, indah purwantini , andri astuti, andri suryadi, agus salim santoso, muhammad agus setiawan, rina indriasari, umi widayanti, umi nurhayati, susetiati, novi yanti, ira yulita sari, karlina risani paath, rudi antoko, taufik nasarudin, zakaria, khusnul khotimah, toifah, iswarni, rodiyah, tri andar walyono, apriyanti isneningsih, sri rahayu susanti, agung rezeki, endro widyantoro, welli candra, wahyu kurniawan, dedi andriyanto, heri sunarmo, purnomo, edi purwito, yuni astanti (alm. rest in peace...), hendrawan prasetyo, johan yuni purnomo edi, nur wijayanti, dori fatun, ken dyah sumiwi, dewi yunita, suscahwanto.
Perjalanan pendidikan saya dimulai dari Taman Kanak-kanak. Nih dia daftar panjangnya:
TK saya tempuh di TK AISIYAH V Gombong, dekat Kawedanan Gombong. Kalau berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Melewati jembatan (basa jawanya bruk). Jembatan yang selalu ramai oleh kendaraan-kendaraan besar, seperti bus, mini bus, truk dan bus-bus antarkota juga provinsi.
Saya selalu berangkat ke sekolah bersama sepupu saya, Yuyun. Dia tinggal di Jakarta sekarang, sering ketemu kalo ada acara keluarga. She has two children.
Guru-guru saya di TK semuanya baik. Nama guru-guru saya adalah Bu Cici (kelak putri beliau yang namanya Ken Dyah Sumiwi yang biasa kupanggil Wiwi jadi teman SD saya), rumah beliau di Wero. Ada Bu Jinah, beliau adalah guru agama. Kalau bercerita tentang Nabi Muhammad selalu bersemangat. Beliau mengajarkan surat-surat pendek, menanamkan kepada murid-muridnya agar selalu ingat kepada Allah swt.
Ada juga Bu .......aduh aku lupa namanya. Nyuwun sewu ibu... bukannya bermaksud melupakan, tetapi memang saya agak tidak ingat. Nanti kalau saya pulang ke Gombong akan saya tanyakan ke Dani, teman se-TK saya. Tapi saya masih ingat wajah lembut ibu. Ibu mengajarkan saya menyanyi, senam, membuat kerajinan tas dari kertas (saya dapat buku tulis pas ikut lomba di Kawedanan. seneng....rasanya).
Lulus TK saya masuk ke SDN 2 Gombong. Sekolah saya ini dekat dengan TK yang dulu. Kalau bahasa jawanya kur kari mlumpat thok wis tekan (tinggal lompat aja sudah sampai). Memang iya, TK dan SD saya ini hanya dibatasi oleh selokan kecil saja.
Guru saya di kelas 1 bernama Bu Yani, lengkapnya Bu Sri Haryani. Orangnya berambut kriting, putih, cantik, dan yang penting sabaaaaaaaaarnya luar biasa. Beliau mengajari saya menulis, membaca, bertutur kata yang sopan, pakai seragam dengan rapi. Dulu ada pelajaran menulis halus. Itu lho yang buku tulisnya bergaris kecil-kecil. Nggak tau ya sekarang masih ada nggak pelajaran menulis halus.
Naik ke kelas 2, saya diajar oleh Pak Wi. Namun beliau tidak lama mengajar karena kemudian beliau pindah ke SD lain. Guru kelas 2 pun diganti oleh Pak Darmosiswoyo. Orangnya lucu, kalau tindak ke sekolah nitih sepeda. Kadang-kadang teman-teman saya yang laki-laki bergantian menuntun sepeda beliau untuk diparkirkan di tempat sepeda.
Trus saya naik ke kelas 3. Nama guru saya di kelas 3 adalah Bu Kasirah. Orangya agak galak (he he...nyuwun sewu ibu, saya tau sekarang ternyata ibu galak dalam hal yang benar dan itu demi kabaikan saya). Di kelas ini sering Bu Kas ...begitu beliau biasa disapa, meminta kami maju dua demi dua untuk menulis dengan huruf jawa. itu lho ho no co ro ko dst.dst.... Kalau yang gak apal hurufnya ya lumayan lama berdiri di depan papan tulis sambil ingat-ingat bentuk hurufnya kayak apa.
Setahun kemudian saya duduk di kelas 4. Nama guru saya di kelas ini adalah Bu Kasih Widayati, kami biasa menyapa beliau dengan nama Bu Wid. Beliau berkaca mata agak tebal, berambut kriting, kalau bicara logat Solonya jelas banget. Di kelas 4 Bu Wid pernah mengajak kami masak-masakan. Waktu itu kami masak sayur asem-asem. Ada tempe, tahu, cabe, pake kecap juga.
Nggak pake nunggak (istilah buat tidak naik kelas), saya lanjut ke kelas 5. Nah...di kelas ini Bu Kun Maryani yang mengajar. Orangnya ngagem kaca tingal (pake kaca mata maksudnya), masih juga dapat guru yang berambut kriting. Rumahnya di sebelah selatan rel sepur alias rel kereta api.
Kelas terakhir yang saya duduki yaitu kelas 6. Pak Nurhadi adalah nama guru di kelas ini. Beliau orangnya bijak, serba tau (karena kalau kami bertanya selalu bisa beliau jawab. hebat ya...), berkaca mata. Di kelas ini pula ada materi pelajaran yang sampai sekarang masih saya ingat. Pak Nur begitu kami menyapa pernah membahas masalah pantun, begini bunyinya
PULAU PANDAN JAUH DI TENGAH
DI BALIK PULAU ANGSA DUA
HANCUR BADAN DI KANDUNG TANAH
BUDI BAIK DIKENANG JUA
Pak Nur...sampai sekarang saya masih ingat lho, Pak. Padahal it`s so long long time ago. Sekarang kalau sedang mengajarkan pantun kepada murid-murid saya, sering terlintas ajaran Bapak tentang materi itu di benak saya.
Oke...sampai di sini cerita masa pendidikan saya saat di Sekolah Dasar. Meski sudah lama berlalu, tetapi masih banyak yang saya ingat. Kalau pulang ke Gombong, saya suka jalan-jalan melewati sekolah-sekolah yang dulu. Betapa saya sangat bersyukur bisa menempuh pendidikan dasar dengan lengkap. Di tempat-tempat itulah saya mulai mengukir sejarah kehidupan agar menjadi sosok yang lebih baik.
Ah...untung saya ingat. Ada satu pesuruh yang selalu dekat dengan semua murid, namanya Pak Karmin. Beliau membantu kami dalam urusan kebersihan. Sosoknya gedhe dhuwur, mandan ireng....hehe....
Nha...ini teman-temanku dari kelas 1 sampai kelas 6 (ada yang pergi ada yang datang)...yuniarti teti harjati, siti wardani, erna wati, indah purwantini , andri astuti, andri suryadi, agus salim santoso, muhammad agus setiawan, rina indriasari, umi widayanti, umi nurhayati, susetiati, novi yanti, ira yulita sari, karlina risani paath, rudi antoko, taufik nasarudin, zakaria, khusnul khotimah, toifah, iswarni, rodiyah, tri andar walyono, apriyanti isneningsih, sri rahayu susanti, agung rezeki, endro widyantoro, welli candra, wahyu kurniawan, dedi andriyanto, heri sunarmo, purnomo, edi purwito, yuni astanti (alm. rest in peace...), hendrawan prasetyo, johan yuni purnomo edi, nur wijayanti, dori fatun, ken dyah sumiwi, dewi yunita, suscahwanto.
